Tahun Baru Islam, Semangat Baru Islam

Bulan Muharram adalah bulan pertama dalam kalender Islam (Hijriyah). Yang menandakan bahwa tanggal satu Muharram adalah tahun baru Islam. Bulan Muharram sendiri, dan juga sebelas bulan lainnya yang termasuk dalam kalender hijriyah, sebenarnya sudah ada dan dikenal dalam sejarah masyarakat Arab sebelum Islam. Termasuk juga penetapan bulan-bulan haram (suci) yang empat, Dzulqa’dah, Dzul-Hijjah, Muharram dan Rajab. Setelah Islam datang, kemudian empat bulan haram itu mendapat penegasan. Seperti firman Allah:  “Sesungguhnya bilangan bulan di sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya ada empat bulan haram”. (At-Taubah: 36).

Tentang apa saja bulan haram yang empat itu, Rasulullah saw sendiri yang mentafsirkan ayat ini. Sebagaimana sabdanya: “Setahun ada dua belas bulan, empat diantaranya adalah bulan suci. Yang tiga,  berturut-turut, Dzulqa’dah, Dzul-Hijjah, Muharam dan Rajab”. (HR. Bukhari, Muslim, Abu Daud dan Ahmad). Continue reading

Leave a comment

Filed under Buletin

Kebersamaan Dalam Perbedaan

Sebenarnya tidak sulit bagi Allah subhaanahu wata’ala untuk menjadikan semua manusia satu suku saja, atau satu bangsa saja. Dengan rupa yang sama, warna kulit yang sama dan bahasa yang sama. Tapi hal tersebut tidak Allah lakukan, karena  justru akan menjauhkan manusia dari keindahannya. Coba kita bayangkan, kalau seandainya kita semua tampil seragam, lingkungan sekitar seragam, semua yang ada di depan mata kita seragam, tentu akan kita dapati bahwa itu akan menjadikan mata tak sedap memandang. Perasaan bosan akan terus mendera, sehingga kita  akan mudah berontak untuk kemudian pergi menjauh.

Nah saudara, sesungguhnya keberagaman yang Allah jadikan untuk kita, adalah untuk menjadikan kita selalu dalam kebersamaan. Allah menginginkan kita untuk tetap indah dalam keberagaman. Keberagaman harus selalu dibangun untuk tumbuh dan berkembang dalam kebersamaan kemanusia-an kita.  Manusia yang menyadari seutuhnya bahwa kita memang dicipta dalam perbedaan. Perbedaan yang harus dikelola. Perbedaan yang kudu dipoles, dipercantik sehingga menjadikan kita semua betah untuk terus bersama.
Keberagaman manusia adalah fithrah yang niscaya. Sebagaimana firman Allah: lanjutkan baca

Leave a comment

Filed under Buletin

Berkorban Songsong Kemenangan

Ketika Allah subhanahu wata’ala menjanjikan kemenangan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, sesungguhnya kemenangan yang dijanjikan tersebut bukanlah janji yang serta merta tanpa sebelumnya melakukan perjuangan. Perjuangan sejatinya adalah upaya sunggu – sungguh, terus – menerus dan harus disertai pengorbanan. Tiada perjuangan tanpa pengorbanan. Bukanlah suatu perjuangan kalau hanya sesaat. Dan tidak ada perjuangan yang dilakukan tanpa kesungguhan.

Maka ketika Allah menurunkan surat an-Nasr dan surat al-Fath, itu adalah janji yang Allah berikan pada Rasul-Nya, Muhammad ‘alahis shalaatu wassalaam dan para pengikutnya sebagai apresiasi terhadap kesungguhan, kesabaran (terus-meerus), dan pengorbanan yang telah dilakukan sebelumnya. Sejarah telah mencatat, bahwa sebelum Rasulullah akhirnya berhasil menaklukkan Mekah pada tahun ke 10 Hijjriyah, Rasulullah saw dan para sahabatnya telah melakukan perjuangan selama 23 tahun. Tiga belas tahun di Mekkah, dan sepuluh tahun di Madinah. Tak kurang dari 64 kali peperangan telah dilalui, baik yang Rasulullah terlibat secara langsung, ataupun yang hanya melibatkan sahabat – sahabat beliau. Belum lagi pengorbanan, harta, dan jiwa yang sudah tak terhitung jumlahnya. Continue reading

1 Comment

Filed under Buletin

Belajar Keikhlasan Dari Ibrahim as

Pembaca yang budiman, pernahkah anda merasa bersedekah karena ingin dipuji? Melakukan sholat sunnah rawatib agar anda dicap sebagai orang yang tekun beribadah? Ataukah anda berkeinginan pergi haji agar dihormati? Sikap semacam ini kadangkala muncul dalam hati kita atau bahkan menjadi bagian tak terpisahkan dalam hati kita. Tentu hanya anda dan Allah SWT yang tahu. Hati memang seringkali berubah. Ketika kondisi keimanan kita kuat, hati cenderung kepada kebaikan, namun kala keimanan kita turun maka hati cenderung kepada keburukan.  Begitu juga dengan keikhlasan,sangat erat hubungannya dengan hati. Orang disebut ikhlas karena ia melakukan sesuatu yang baik hanya semata karena Allah ta’ala tidak karena yang lain.  Tujuan karena Allah inilah urusannya dengan hati. Sebagai contoh, sering kita jumpai orang yang mengatakan bahwa ia berbuat sesuatu ikhlas karena Allah, tetapi bisa jadi hatinya berkata sebaliknya. Oleh karena itulah,bab keikhlasan mempunyai hubungan erat dengan hati.

Berbicara mengenai keikhlasan, ada sebuah contoh luar biasa yang ditunjukkan oleh Nabi Ibrahim as beserta putranya Ismail as. Kisah yang begitu mengharukan dari seorang hamba Allah yang taat, sabar dan patuh pada perintah Sang Khalik, Allah SWT, yang untaian kisahnya begitu indah dilukiskan dalam Al Quran surah Ash-Shafat ayat 102-105. “Maka ketika anak itu sampai pada umur dewasa yakni sanggup berusaha bersamanya, (Ibrahim) berkata, ‘Wahai anakku yang kusayang, sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah, bagaimana pendapatmu. ‘Dia (Isma’il) menjawab,’Wahai ayahku, lakukanlah apa yang diperintahkan Allah kepadamu; Insya Allah engkau akan mendapatkanku termasuk orang yang bersabar. ‘Maka setelah keduanya bertekad bulat dalam berserah diri (kepada Allah) dan dibaringkan pipi (Isma’il) di atas tanah. Kemudian kami berseru kepadanya, ‘Hai Ibrahim, engkau telah benar-benar melaksakan perintahKu dalam mimpi itu. Demikianlah sesungguhnya Kami membalas orang-orang yang berlaku baik. Continue reading

Leave a comment

Filed under Buletin

Arti Pahlawan

Abrar Rifai

 

*


Saoedara-saoedara ra’jat Soerabaja,
siaplah keadaan genting
tetapi saja peringatkan sekali lagi, djangan moelai menembak,
baroe kalaoe kita ditembak, maka kita akan ganti menjerang mereka itu.
Kita toendjoekkan bahwa kita adalah benar-benar orang jang ingin merdeka.
Dan oentoek kita, saoedara-saoedara, lebih baik kita hantjur leboer daripada tidak merdeka.
Sembojan kita tetap: MERDEKA atau MATI.
Dan kita jakin, saoedara-saoedara,
pada akhirnja pastilah kemenangan akan djatuh ke tangan kita
sebab Allah selaloe berada di pihak jang benar
pertjajalah saoedara-saoedara,
Toehan akan melindungi kita sekalian
Allahu Akbar..! Allahu Akbar..! Allahu Akbar…! MERDEKA!!!

Itu adalah cuplikan pidato Bung Tomo pada peristiwa 10 Nopember 1945. Dimana ketika itu Arek – arek Suroboyo berperang mati – matian untuk mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia yang sebelumnya sudah diproklamirkan oleh Bung Karno dan Bung Hatta, di Jakarta pada Tanggal 17 Agustus 1945. Continue reading

Leave a comment

Filed under Buletin

Antara Surabaya dan Konstantinopel (Turki)

Pembaca Insaf, coba kita mengingat kembali peristiwa-peristiwa kepahlwanan khususnya di bulan November, maka kita akan ingat tragedi perlawanan rakyat Surabaya terhadap agresi tentara Inggris. Ya, tepatnya pada tanggal 10 November 1945. Pada pagi harinya, tentara Inggris mulai melancarkan serangan berskala besar, yang diawali dengan bom udara ke gedung-gedung pemerintahan Surabaya, dan kemudian mengerahkan sekitar 30.000 infanteri, sejumlah pesawat terbang, tank, dan kapal perang.
Continue reading

Leave a comment

Filed under Buletin

Tanda Kepekaan Iman


(Ahmad Mudzoffar Jufri)

Ramadhan adalah bulan iman dan taqwa. Keduanya merupakan dasar, landasan dan motivasi untuk setiap mukmin dan mukminah agar bisa dan bersemangat dalam upaya mengoptimalkan pemanfaatannya. Dan di saat yang sama, keduanya adalah sekaligus merupakan tujuan, target dan goal yang harus dicapai dengan ibadah puasa di dalamnya dan seluruh rangkaian amaliyah ibadah yang menyertainya (lihat QS. Al-Baqarah: 183). Ya, ibadah puasa dan seluruh ibadah Ramadhan yang lainnya, adalah untuk menggapai derajat iman yang lebih tinggi, dan peringkat taqwa yang lebih istimewa. Maka sejauh mana kesuksesan seseorang dalam upaya optimalisasi Ramadhan, adalah ditentukan oleh seberapa kadar peningkatan iman dan taqwa yang telah dialami dan diperolehnya. Dan itu bisa diketahui melalui tanda-tanda kepekaan iman yang bisa dirasakan dan “diraba” oleh setiap orang yang memilikinya.

Ya, iman mempunyai dan membuahkan kepekaan yang bisa disebut dengan kepekaan iman/imani (al-hasasiyyah al-imaniyyah/al-hiss al-imani), yang merupakan salah satu parameter utama tingkat dan kualitas iman seseorang. Sehingga sejauh mana tingkat dan kualitan iman kita, bisa dilihat dan diketahui dari tingkat dan kualitas kepekaan dan sensitivitasnya. Selanjutnya kepekaan atau sensitivitas iman itu memiliki tanda-tandanya, antara lain sebagai berikut:
  1. Muraqabatullah (kesadaran akan pengawasan Allah) sampai derajat ihsan seperti dalam hadits Jibril ‘alaihissalam, dimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
“أَنْ تَعْبُدَ اللهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ، فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ، فَإِنَّهُ يَرَاكَ” (الحديث، رواه مسلم).
“(Derajat ihsan) adalah hendaknya kamu beribadah kepada Allah, (dengan sikap) seakan-akan kamu melihat-Nya. Dan meskipun kamu tidak bisa benar-benar melihat-Nya (karena memang tidak mungkin di dunia ini), maka (ketahui dan yakinilah) bahwa, Dia selalu melihatmu” (HR. Muslim dari Umar bin Al-Khatthab radhiyallahu ‘anhu).
“Maka tetap istiqamahlah kamu, sebagaimana diperintahkan kepadamu dan (juga) orang yang telah taubat beserta kamu dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Dia Maha Melihat apa yang kamu kerjakan” (QS. Huud: 112).
Dan Katakanlah: “Beramallah kamu, maka Allah akan melihat amalmu, begitu pula Rasul-Nya dan orang-orang mukmin. Dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa-apa yang telah kamu amalkan (di dunia)” (QS. At-Taubah: 105)..
  1. Kuat dan dominannya orientasi ukhrawi (orientasi pada kehidupan akhirat) dalam diri seseorang.
“Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi, dan berbuat baiklah sebagaimana Allah elah berbuat baik kepadamu, serta janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan” (Al-Qashash: 77).
عَنْ شَدَّادِ بْنِ أَوْسٍ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَال:َ “الْكَيِّسُ مَنْ دَانَ نَفْسَهُ وَعَمِلَ لِمَا بَعْدَ الْمَوْتِ وَالْعَاجِزُ مَنْ أَتْبَعَ نَفْسَهُ هَوَاهَا وَتَمَنَّى عَلَى اللَّهِ” (رواه الترمذي وابن ماجة وأحمد، وقَالَ الترمذي: هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ).
Dari Syaddad bin Aus dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam beliau bersabda: “Orang yang cerdas adalah orang yang selalu mengevaluasi dirinya dan beramal untuk hari setelah kematian. Sedangkan orang yang lemah (bodoh) adalah orang memperturutkan hawa nafsunya dan berangan-angan (kosong) kepada Allah.” (HR. At-Tirmidzi, Ibnu Majah dan Ahmad. At-Tirmidzi berkata: Hadits ini hasan).
  1. Rasa kepekaan yang baik terhadap masalah halal, haram, syubhat dan semacamnya.
عَنْ النُّعْمَانِ بْنِ بَشِيرٍ قَالَ سَمِعْتُهُ يَقُولُ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ وَأَهْوَى النُّعْمَانُ بِإِصْبَعَيْهِ إِلَى أُذُنَيْهِ: “إِنَّ الْحَلَالَ بَيِّنٌ وَإِنَّ الْحَرَامَ بَيِّنٌ وَبَيْنَهُمَا مُشْتَبِهَاتٌ لَا يَعْلَمُهُنَّ كَثِيرٌ مِنْ النَّاسِ فَمَنْ اتَّقَى الشُّبُهَاتِ اسْتَبْرَأَ لِدِينِهِ وَعِرْضِهِ وَمَنْ وَقَعَ فِي الشُّبُهَاتِ وَقَعَ فِي الْحَرَامِ كَالرَّاعِي يَرْعَى حَوْلَ الْحِمَى يُوشِكُ أَنْ يَرْتَعَ فِيهِ أَلَا وَإِنَّ لِكُلِّ مَلِكٍ حِمًى أَلَا وَإِنَّ حِمَى اللَّهِ مَحَارِمُهُ أَلَا وَإِنَّ فِي الْجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ أَلَا وَهِيَ الْقَلْبُ” (متفق عليه).
Dari An Nu’man bin Basyir dia berkata: Saya pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda -Nu’man sambil menujukkan dengan dua jarinya kearah telinganya-: “Sesungguhnya yang halal telah nyata (jelas) dan yang haram telah nyata pula. Dan di antara keduanya ada perkara yang tidak jelas (syubhat), yang tidak diketahui kebanyakan orang. Maka barangsiapa menjaga dirinya dari melakukan perkara yang meragukan (syubhat), selamatlah agama dan harga dirinya. Tetapi siapa yang terjatuh dalam perkara syubhat, maka sama saja ia terjatuh dalam keharaman. Tak ubahnya seperti gembala yang menggembala di sekitar batas terlarang, dikhawatirkan ternaknya akan masuk ke dalamnya. Ketahuilah, setiap raja itu memiliki larangan, dan larangan Allah adalah sesuatu yang diharamkan-Nya. Ketahuilah, bahwa dalam setiap tubuh manusia terdapat segumpal daging, jika segumpal daging itu baik maka baik pula seluruh tubuhnya, namun jika segumpal daging tersebut rusak, maka rusaklah seluruh tubuhnya. Ketahuilah, gumpalan darah itu adalah hati.” (HR. Muttafaq ‘alaih).
  1. Merasakan dan peka terhadap kecemburuan, kemarahan dan murka Allah ketika pelanggaran-pelanggaran terhadap syariat-Nya terjadi.
عَنْ أَبِي سَلَمَةَ أَنَّهُ سَمِعَ أَبَا هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ: “إِنَّ اللَّهَ يَغَارُ وَغَيْرَةُ اللَّهِ أَنْ يَأْتِيَ الْمُؤْمِنُ مَا حَرَّمَ اللَّهُ” (متفق عليه).
Dari Abu Salamah bahwa ia mendengar Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, bahwa beliau bersabda: “Sesungguhnya Allah itu cemburu. Dan kecemburuan Allah datang bilamana seorang mukmin melakukan hal yang diharamkan Allah.” (HR. Muttafaq ‘alaih).
  1. Merasa senang, lega dan bahagia dengan setiap kebaikan dan ketaatan yang dilakukan olehnya atau oleh orang lain. Dan sebaliknya merasa sedih, kecewa dan marah terhadap setiap keburukan dan kemaksiatan yang diperbuat olehnya atau oleh orang lain.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“مَنْ سَرَّتْهُ حَسَنَتُهُ، وَ سَاءَتْهُ سَيِّئَتُهُ، فَهُوَ مُؤْمِنٌ”
”Barangsiapa bersenang hati dengan amal kebaikannya, dan bersedih hati dengan keburukan yang diperbuatnya, maka berarti dia adalah seorang mukmin” (HSR Ath-Thabrani).
  1. Tidak meremehkan perbuatan dosa termasuk dosa-dosa kecil. Melainkan merasa dan menganggap setiap dosa, sekecil apapun, sebagai beban yang berat dan sesuatu yang menakutkan baginya. Para ulama salaf berkata:
لا تَنْظُرْ إِلَى صِغَرِ المَعْصِيَةِ، ولَكِنِ انْظُرْ إِلَى عِظَمِ مَنْ عَصَيْتَ !
(Jika mau bermaksiat) janganlah kamu melihat pada kecilnya maksiat (andaipun ia maksiat dan dosa kecil), namun lihat dan ingatlah akan kebesaran dan keagungan Dzat yang kamu maksiati (durhakai), yakni Allah ‘Azza wa Jalla.
  1. Peka dalam menangkap hasil dan pengaruh positif dari setiap ketaatan dan kebaikan, serta dampak dan akibat negatif dari setiap keburukan dan kemaksiatan. Karena kaidahnya bahwa, apapun yang terjadi dalam kehidupan kita, baik dan buruk, kecil dan besar, adalah sangat terkait erat dengan prilaku dan amal kita, yang berupa ketaatan dan kemaksiatan. Hanya saja kebanyakan orang tidak peka dalam menangkap dan menyadari hal itu!
Salah seorang ulama salaf berkata:
إِذَا أَذْنَبْتُ ذَنْبًا، فَإِنِّي أَرَى أَثَرَ ذلِكَ عَلَى سُلُوكِ أَهْلِي وَدَابَّتِي.
Jika aku membuat suatu dosa, maka sungguh aku bisa (langsung) melihat pengaruh dan dampak buruknya terhadap prilaku keluargaku dan bahkan hewan tungganganku!
  1. Cepat sadar dan segera bertaubat serta beristighfar saat terpeleset ke dalam perbuatan maksiat dan prilaku dosa serta tindak nista.
 “Dan (termasuk golongan kaum muttaqin juga) orang-orang yang apabila (terlanjur) mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri (dengan berbuat maksiat), mereka segera ingat Allah, lalu (segera pula) memohon ampun atas dosa-dosa mereka – dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah? – dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui” (QS. Ali ‘Imraan: 135).
  1. Merasakan pengaruh di hati dan jiwa (adz-dzauq al-imani al-qalbi), berupa rasa nikmat dan lezat dari ibadah-ibadah shalat, dzikir, doa, tilawatul-Qur’an, dan lainnya. Seperti misalnya hati yang bergetar, rasa khusyuk dan tenang, menangis karena rasa khasy-yah (takut) kepada Allah, dan lain-lain.
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang bila disebut nama Allah bergetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya bertambahlah iman mereka (karenanya), dan hanya kepada Tuhan-lah mereka bertawakkal” (QS. Al-Anfaal: 2).
Dan salah satu dari tujuh golongan orang yang akan mendapatkan naungan Allah di Hari Kiamat adalah:
وَرَجُلٌ ذَكَرَ اللَّهَ خَالِيًا فَفَاضَتْ عَيْنَاهُ” (الحديث، متفق عليه).
” Serta seorang yang berdzikir kepada Allah dalam khalwatnya (secara menyendiri) hingga kedua matanya basah karena menangis.” (HR. Muttafaq ‘alaih).
  1. Peka dalam membedakan antara suara hati nurani dan bisikan hawa nafsu.
عَنْ وَابِصَةَ الْأَسَدِيِّ قَالَ أَتَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَنَا أُرِيدُ أَنْ لَا أَدَعَ شَيْئًا مِنْ الْبِرِّ وَالْإِثْمِ إِلَّا سَأَلْتُهُ عَنْهُ وَحَوْلَهُ عِصَابَةٌ مِنْ الْمُسْلِمِينَ يَسْتَفْتُونَهُ فَجَعَلْتُ أَتَخَطَّاهُمْ قَالُوا إِلَيْكَ يَا وَابِصَةُ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قُلْتُ دَعُونِي فَأَدْنُوَ مِنْهُ فَإِنَّهُ أَحَبُّ النَّاسِ إِلَيَّ أَنْ أَدْنُوَ مِنْهُ قَالَ: “دَعُوا وَابِصَةَ ادْنُ يَا وَابِصَةُ” مَرَّتَيْنِ أَوْ ثَلَاثًا قَالَ فَدَنَوْتُ مِنْهُ حَتَّى قَعَدْتُ بَيْنَ يَدَيْهِ فَقَالَ: “يَا وَابِصَةُ أُخْبِرُكَ أَوْ تَسْأَلُنِي” قُلْتُ لَا بَلْ أَخْبِرْنِي فَقَالَ: “جِئْتَ تَسْأَلُنِي عَنْ الْبِرِّ وَالْإِثْمِ” فَقَالَ: نَعَمْ فَجَمَعَ أَنَامِلَهُ فَجَعَلَ يَنْكُتُ بِهِنَّ فِي صَدْرِي وَيَقُولُ: “يَا وَابِصَةُ اسْتَفْتِ قَلْبَكَ وَاسْتَفْتِ نَفْسَكَ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ الْبِرُّ مَا اطْمَأَنَّتْ إِلَيْهِ النَّفْسُ وَالْإِثْمُ مَا حَاكَ فِي النَّفْسِ وَتَرَدَّدَ فِي الصَّدْرِ وَإِنْ أَفْتَاكَ النَّاسُ وَأَفْتَوْكَ” (رواه أحمد والدارمي).
Dari Wabishah Al Asadi. ia berkata: Saya datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, dan saya ingin agar tidak ada kebajikan atau keburukan kecuali aku harus menanyakannya pada beliau. Dan pada saat itu di sekeliling beliau banyak kaum muslimin yang sedang meminta nasehat kepada beliau. Maka aku pun nekat melangkahi mereka hingga orang-orang itu berkata: Wahai Wabishah, menjauhlah dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, menjauhlah wahai Wabishah! Saya berkata: Biarkan saya mendekat kepada beliau. Karena beliau adalah orang yang paling saya cintai dan sukai untuk saya dekati. Maka beliau pun berkata: “Biarkan Wabisah mendekat. Mendekatlah wahai Wabishah.” Beliau mengatakannya dua atau tiga kali. Wabishah berkata: Saya pun mendekat kepada beliau hingga saya duduk di hadapannya. Kemudian beliau bertanya: “Wahai Wabisah, aku beritahukan kepadamu atau kamu yang akan bertanya padaku?” saya menjawab: Tidak, akan tetapi beritahukanlah padaku. Beliau lantas bersabda: “Kamu datang untuk bertanya mengenai kebajikan dan keburukan (dosa)?” Saya menjawab: Benar. Beliau kemudian menyatukan jari-jari beliau seraya menekannya ke dadaku. Setelah itu beliau bersabda: “Wahai Wabishah, mintalah petunjuk pada hati dan jiwamu -beliau mengulanginya tiga kali-. Kebajikan itu adalah sesuatu yang dapat menenangkan dan menentramkan jiwa. Sedangkan keburukan itu adalah sesuatu yang meresahkan hati dan menyesakkan dada, meskipun manusia memberimu fatwa dan membenarkanmu.” (HR. Ahmad dan Ad-Darimi).
عَنْ النَّوَّاسِ بْنِ سِمْعَانَ الْأَنْصَارِيِّ قَالَ: سَأَلْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ الْبِرِّ وَالْإِثْمِ فَقَالَ: “الْبِرُّ حُسْنُ الْخُلُقِ وَالْإِثْمُ مَا حَاكَ فِي صَدْرِكَ وَكَرِهْتَ أَنْ يَطَّلِعَ عَلَيْهِ النَّاسُ” (رواه مسلم).
Dari An-Nawwas bin Sam’an Al Anshari dia berkata; “Aku pernah bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tentang arti kebajikan dan dosa. Sabda beliau: “Kebajikan itu ialah budi pekerti yang baik. Sedangkan dosa ialah sesuatu yang yang bergumul di dadamu (dan menyesakkannya), dan yang engkau sendiri tidak suka (tidak ingin) jika hal itu diketahui orang lain.” (HR. Muslim).
  1. Peka dalam menyadari dan merasakan nikmat-nikmat Allah, khususnya yang jarang disadari oleh kebanyakan orang, yang akan mendorong seseorang untuk senantiasa meningkatkan syukurnya kepada Allah Ta’ala, serta merasa malu terhadap-Nya, lalu terhadap dirinya sendiri dan orang lain, demi menyadari betapa tidak sebandingnya antara besar, berlimpah dan tak terhitungnya nikmat-nikmat Allah, dan antara minim, sedikit dan amat terbatasnya syukur yang ia tunaikan!
 Dan Dia telah memberikan kepadamu (keperluanmu) dari segala apa yang kamu mohonkan kepada-Nya.. Dan jika kamu (hendak) menghitung nikmat Allah, tidaklah dapat kamu menghinggakannya. Sesungguhnya manusia itu sangat dzalim dan sangat kufur (mengingkari nikmat Allah)” (QS. Ibrahim: 34)..
“Dan jika kamu (hendak) menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tak dapat menentukan jumlahnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (QS. A-Nahl: 18).
*****
Gambar diambil dari sini

Leave a comment

Filed under Taujih