Tarbiyah Dzatiyyah


Muqadimmah

Apa yang membedakan antara generasi awal yang dibina Rasulullah SAW dengan dengan umatnya saat ini? Mengapa para sahabat Rasulullah SAW yang kebanyakan buta huruf bisa tampil menjadi pribadi yang hebat dengan ciri khas dan kelebihannya masing-masing? Padahal hal yang diajarkan oleh Rasulullah pada mereka dan kita adalah sama, yaitu ISLAM.

Apakah karena kehadiran fisik Rasulullah SAW di antara mereka, sehingga mereka menjadi apa yang dikatakan Sayyid Qutb sebagai generasi yang unik? Kalau alasannya hal ini tentu Allah SWT tidak akan menjadikan Rasulullah SAW sebagai Rasul yang terakhir, karena sepeninggalnya beliau Islam dakwah Islam malah semakin meluaskan sayapnya hingga bisa menjangkau dua pertiga luas bumi ini hingga saat ini.

Menurut sebagian ulama, salah satu rahasia keunggulan asabiqunal awwalun (generasi terdahulu) tersebut adalah kemampuan mereka untuk mentarbiyah (membina) diri mereka sendiri dengan optimal, sehingga bisa meningkatkan kualitas diri mereka secara maksimal. Selain itu mereka mempunyai komitmen untuk senantiasa melakukan perbaikan diri dan meningkatkan semua potensi mereka hingga tidak ada satu pun potensi mereka yang terabaikan.

Rangkaian proses untuk memaksimalkan semua potensi diri tadi disebut Tarbiyah Dzatiyah. Secara definisi Tarbiyah Dzatiyah adalah sejumlah sarana dan usaha tarbiyah yang dilakukan oleh seorang muslim / muslimah kepada dirinya untuk membentuk keperibadian Islami yang sempurna dalam semua aspek kehidupannya; ilmiah, iman, akhlaq, sosial, dan sebagainya dan senantiasa berusaha meningkatkan menuju kesempurnaan sebagai manusia. Yang tidak kalah pentingnya adalah tarbiyah dzatiyah ini mampu membuat seorang muslim menjadi manusia senantia beramal dalam kehidupan nyata sebagaimana yang telah dilakukan Rasulullah dan sahabatnya. Kesemua usahanya itu dilakukanhanya semata-mata untuk mencari keridhaan Allah semata.

Tarbiyah dzatiyah juga seharusnya menghasilkan pribadi-pribadi yang mempunyai sifat sebagaimana yang disebutkan Allah dalam surat Al Maidah ayat 54-55, yaitu mereka dicintai Allah dan merekapun mencintaiNya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad dijalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela, serta berwala’ (memberikan loyalitasnya) hanya kepada Allah, Rasul dan orang-orang beriman serta mendirikan shalat dan menunaikan zakat dan mereka tunduk kepada Allah. Sehingga mereka akan merasakan kebahagiaan, ketenteraman, keamanan dan ketenangan jiwa dibawah bimbingan Allah dalam setiap langkah kehidupannya serta terjaga dari keburukan dan hal-hal yang tidak disukai, mendapat keberkahan dalam waktu dan harta serta sabar di atas berbagai penderitaan dan ujian yang merintangi perjalanan menuju keridhaan Allah SWT.

Tarbiyah Dzatiyyah dan Kewajiban Dakwah Islamiyyah

Misi besar yang diutusnya Rasululullah SAW adalah menjadi rahmat semesta alam [rahmatul lil ‘alamin] yaitu untuk menyebarkan Islam kepada semua manusia tanpa memandang suku dan warna kulit agar mereka menjadikannya sebagai sumber kebahagiaan dan kemuliaan.

Untuk menjalankan misi besar ini Rasulullah SAW membina para sahabatnya tidak hanya semata-mata agar mereka menjadi pemeluk islam yang baik tetapi menjadikan mereka sebagai satu barisan pendakwah islam yang tangguh yang akan menyebarkan cahaya kebenaran Islam ke seluruh penjuru dunia.

Begitu juga seharusnya dengan setiap muslim yang telah mendapatkan sentuhan iman sudah seharusnya menjadi pendukung dakwah dan aqidah serta merasa bertanggung jawab untuk menyebarkan risalah Islam ini ke semua orang. Sebagai bekalnya dibutuhkan kemampuan untuk mendidik diri kita agar senantiasa memiliki kepribadian islami dan membangkitkan semua potensi dirinya untuk kejayaan Islam. Kemampuan untuk mentarbiyah diri secara mandiri ini insyaAllah akan menjadikan kita mampu bertahan dalam berbagai ujian dan tekanan dalam kehidupan dan dakwah, tidak menjadikan futur (malas dan lesu), tidak menyurutkan semangat untuk istiqomah diatas di jalan kebenaran dan melaksanakan tuntutan dakwah. Selain itu pemikiran kita tidak jumud dan tidak akan bimbang dan ragu menjawab berbagai tuduhan dan fitnah serta mampu menyelesaikan segala persoalan yang dihadapi serta dapat mengambil keputusan yang tepat untuk meraih kemuliaan di sisi Allah SWT. Dengan sikap ini seperti itu kita tidak menjadi bergantung pada arahan atau bimbingan secara formal (rasmiyyah), melainkan kita mampu mengembangkan potensi diri dan dakwah Islamiyah secara maksimal.

Utusan-utusan Rasulullah SAW telah membuktikan dirinya dalam mengembangkan dakwah di berbagai tempat. Mereka dapat bertahan sekalipun jauh dari Rasulullah SAW dan masyarakat muslim lainnya. Ja’far bin Abi Thalib di antaranya. Dia dan sahabat lainnya dapat tinggal di Habsyah dalam waktu yang cukup lama. Sekalipun mereka sangat rindu untuk berkumpul bersama dengan saudara muslim lainnya, mereka dapat mempertahankan dirinya dalam keimanan dan ketaqwaan. Begitu kuatnya daya tahan mereka hidup bersama dakwah dan jauh dari saudara-saudaranya yang lain dalam waktu yang cukup lama. Hingga membuat Rasulullah saw begitu bangga terhadap mereka, hal ini nampak dari ungkapan beliau saat mereka pulang ke Madinah, “Aku bingung apa yang membuat diriku begitu gembira, apakah karana menangnya kita di Khaibar atau kembalinya kaum muslimin dari Habsyah.”

Demikian pula Mus’ab bin Umair sebagai duta Islam pertama dapat mengembangkan dakwah di Madinah dan berhasil membangun masyarakat di sana. Mus’ab sebagai da’i dan guru yang pertama bagi penduduk Madinah. Dengan bimbingan Mus’ab masyarakat Madinah dipersiapkan sebagai basis cikal bakal beridirinya daulah Islamiyah, sehingga saat Rasulullah SAW berhijrah mereka menyambutnya dengan suka cita dan rela menjadi pendukungnya dengan segenap jiwa dan raganya.

Itu dua contoh keberhasilan tarbiyah dzatiyah yang berhasil dicatat dalam sejarah kejayaan islam. Demikianlah Ja’far dan Mus’ab telah menunaikan tugas mulia tersebut dengan sebaik-baiknya karena kemampuan mereka membina diri dengan baik meski jauh dari Rasulullah SAW. Kita tidak bisa membayangkan seandainya mereka adalah pribadi yang lemah yang tidak mampu menjaga dan meningkatkan diri mereka, tunduk kepada nafsu dan disibukkan oleh urusan yang remeh temeh dan sentiasa melibatkan diri pada perbuatan-perbuatan yang yang tidak membuahkan amal.

Beberapa Fokus Tarbiyah Dzatiyah

Adapun aspek-aspek yang perlu ditingkatkan setiap mukmin dalam tarbiyah dzatiyah terhadap dirinya meliputi:

1. Ar-Ruhiyah (Spiritual) :
setiap mukmin wajib untuk menjaga dan meningkatkan ketahanan ruhiyahnya, sehingga ia tidak lemah dalam melaksanakan segala taklif robbani (tanggungjawab keimanan) dan menjadikan keridhaan Allah sebagai tujuan utamanya. Untuk itu setiap mukmin perlu memiliki program yang terencana dalam menjaga ketahanan ruhiyahnya, beberapa sarana yang bisa dilakukan adalah; secara rutin melaksanakan solat berjamaah di masjid, berpuasa sunah, qiyamullail, sedekah, ziarah kubur dan lainnya. Selain itu dia harus senantiasa mencermati naik turunnya kondisi ruhiyahnya, sehingga dia dapat menjaganya pada kondisi yang stabil, agar senantiasa dapat melaksanakan kewajiban-kewajiban yang dibebankan kepadanya.

2. Al-Fikriyah (Pemikiran) : setiap pikiran manusia hendaknya senantiasa mendapatkan asupan ilmu, diasah dan digunakan untuk kemaslahatan dirinya dan ummat manusia, hal ini juga agar dia tidak mengalami mengalami kejumudan. Untuk memenuhi tuntutan itu tidaklah cukup hanya mengandalkan ilmu yang dia dapatkan dari majlis tarbiyah yang tertentu saja. Setiap muslim hendaknya haus akan ilmu dan mencarinya dari majelis mana saja yang dia mampu. Mampu menelaah dan membaca kitab, menghadiri acara kajian ilmiah ataupun kegiatan peningkatan wawasan lainnya. Banyak nash dalam Al-Qur’an ataupun hadits yang menyarankan untuk meningkatkan kemampuan berfikir dengan melakukan pengamatan dan pengkajian. Sehingga pemikiran kita sentiasa dalam pencerahan bahkan selalu dapat mencari jalan penyelesaian yang terbaik. Untuk itu sudah menjadi kewajiban bagi setiap muslim untuk membaca buku beberapa jam dalam setiap hari serta memiliki perpustakaan peribadi di rumahnya walaupun kecil.

3. Al-Maaliyah (Materi) :
Islam juga menuntut kekuatan materi atau harta. Oleh karena itu setiap mukmin harus memiliki kemampuan untuk berusaha/wirausaha agar tidak menjadi beban bagi orang lain. Ia harus memiliki kemampuan mencari penghidupan yang layak bagi dirinya (qadirun alal kasabi). Para sahabat yang diridhai Allah swt. telah memberikan teladan pada kita semua bahwa mereka tidak menjadi beban bagi saudara mereka yang lain. Pada saat hirah kaum Muhajirin yang datang ke Madinah tidak membawa apa-apa, namun mereka tidak dengan mudah menerima bantuan kaum Anshar. Kaum Muhajirin mampu mengembangkan potensi maaliyah dirinya. Mereka pun akhirnya dapat hidup sebagaimana saudaranya kaum Anshar dan bahkan ada yang mendapatkan kehidupannya yang lebih baik daripada di Mekkah.

4. Al-Maidaniyah (Penguasaan Lapangan Dakwah)
: Penguasaan lapangan juga hal sangat penting bagi perkembangan dakwah ini. Seorang mukmin seharusnya memahami kondisi masyarakat tempat dia tinggal dan bergaul. Hendaknya dia benar-benar memahami segala permasalahan serta karateristik masyarakat disekitarnya supaya ia mampu menyesuaikan diri dan mencari peluang-peluang untuk melakukan dakwah sehingga cahaya petunjuk bisa tersampaikan pada lingkungannya. Selain itu dia juga memahami apa hambatan dakwah dan penghalangya. Penguasaan lapangan yang cepat dan tepat akan membuatnya mampu menyusun langkah yang terbaik dan tepat untuk menyebarkan risalah dakwah kebenaran ini.

Maka ketika para sahabat berada di tempat yang baru mereka mulai belajar untuk mengenal medan dan lingkungan tempat tinggalnya, dengan kemampuan itu dakwah mereka berkembang dengan pesat, seperti dakwah di Madinah oleh Mus’ab bin Umair dan sahabat lainnya.

Ramadhan dan Tarbiyah Dzatiyyah

Ramadhan sebentar lagi datang. Tamu agung ini menawarkan kepada para mukmin yang menyambut kedatangannya dengan gembira dengan berbagai keutamaan. Selama ramadhan adalah saat yang sangat kondusif bagi setiap mukmin untuk meningkatkan amal ibadahnya. Selain ada jaminan pahala yang berlipat ganda dari Allah SWT bagi mereka yang melakukan kebajikan dengan ikhlas dan mencari keridhaanNya. Yang tidak kalah pentingnya adalah selama ramadhan kita dilatih untuk melakukan pembinaan diri secara mandiri agar disiplin dalam melakukan sebanyak mungkin amal kebaikan dan tentu saja semua itu tidak boleh berakhir pada saat ramadhan meninggalkan kita. Oleh karenya persiapan yang baik untuk mendapatkan kemuliaan ramadhan sudah seharusnya dilakukan semenjak sekarang.

Wallahu’alam
*****

Catatan:
Ditulis ulang dari “ Tarbiyah Dzatiyyah” oleh Abu Umar dengan penambahan disana-sini.

Leave a comment

Filed under Buletin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s