Pesantren VS Gereja

Abrar Rifai *)

Pada musim kampanye pemilu legislatif 2004 lalu, saat itu saya masih aktif terlibat dalam aktivitas salah satu partai islam yang sekarang empat orang kadernya sudah ada yang menjadi mentri di pemerintahan SBY jilid 2. Ketika itu, salah seorang rekan pengurus sebuah partai (bukan islam), tapi berbasis-kan pemilih islam, pernah berkata pada saya, “ Mas Abrar, partai – partai seperti kita ini, jangan berharap untuk bisa menang di Lawang!”. “lho kok bisa begitu?”, kata saya sengit. “lha iya, iya lah, wong Lawang ini walau mungkin kelihatannya sebagian besar warganya adalah muslim, tapi sebenarnya kota ini adalah basis Kristen termasuk terbesar di Indonesia”.

Pernyataan tersebut sampai sekarang masih selalu menjadi pemikiran saya dan teman – teman pemerhati perbaikan kwalitas keberagama-an masyarakat muslim di kota ngelawang ini. Pernyataan tersebut setidaknya bisa dibenarkan dengan banyaknya jumlah gereja yang untuk ukuran kota kecamatan, terlalu sangat banayak. Dalam catatan yang saya himpun dari berbagai sumber dan situs www.kota-lawang.com, tercatat setidaknya 39 gereja dan lembaga penginjilan. Itu belum termasuk lembaga pendidikan formal yang berafiliasi ke gereja. Bandingkan dengan dengan jumlah pesantren, yang tak lebih yang tak lebih dari 10 pondok pesantren saja. Begitu juga dengan sekolah formal yang berafiliasi atau yang bercirikan islam, juga tak lebih dari 10 sekolah saja. Padahal seperti lazim di ketahui, bahwa mayoritas penduduk kota Lawang adalah muslim.

Kenapa pada tulisan ini, gereja hanya dihadapkan dengan pesantren saja. Tidak dengan masjid atau mushalla, yang bisa dipastikan jumlahnya akan lebih banyak dari gereja. Memang masjid dan mushalla tentu lebih banyak jumlahnya dari gereja. Akan tetapi seperti yang telah jamak diketahui, bahwa kebanyakan masjid dan mushalla kita tak lebih fungsinya hanya sebatas untuk kegiatan shalat berjamaah saja. Itupun biasanya hanya waktu maghrib, isyak dan subuh saja. Itupun hanya dua sampai empat shaff saja. Berbeda dengan gereja, yang selain digunakan untuk kebaktian, juga betul – betul dijadikan sebagai pusat kegiatan dakwah, social kemasyarakatan, pendidikan dan bahkan politik. Fungsi gereja yang semacam itu, sebenarnya adalah fungsi masjid di zaman Rasulullah saw dan para sahabat dulu. Tapi entah kenapa, justru apa yang menjadi kebiasaan Nabi saw dan sahabatnya itu tidak diikuti oleh para pengurus masjid sekarang. Malah yang mengikutinya, adalah ummat yang menolak ajarannya, Kristen. Sungguh memperihatinkan memang melihat fenomena semacam ini.

Bagaimana mungkin ummat islam akan berdaya, kalau kebiasaan luhur pendahulunya tidak menjadi kebiasaan lagi?!

Pondok pesantren sebagai lembaga pendidikan tertua di Indonesia, justru lembaga ini yang menurut saya masih menjaga fungsi masjid sebagaimana di atas. Di pesantren ada pengajaran tentang segala aspek keagamaan (islam), social, budaya, dakwah dan politik. Di pesantren ada masjid/mushallha, yang tidak pernah sepi dari kegiatan shalat berjamaah. Maka, sebenarnya sekarang yang menjadi ancaman eksistensi gereja, adalah pesantren. Tak terkecuali di Lawang. Tapi dengan jumlah dan kondisi pesantren seperti saat ini, saya jadi pesimis bahwa keberadaanya akan akan bisa menahan gerak laju dakwah gereja di kota lawang yang sangat massif, terstruktur, professional, dandukungan dana yang banyak. Sedangkan pesantren di kota Lawang, sampai sejauh ini, sebagian besar diantaranya masih belum layak untuk disebut sebagai pondok pesantren ideal sebagaimana pesantren di kota – kota lain. Yang disebut pondok pesantren di kota lawang, sebagia besar masih sebatas sebagai maelis taklim saja. Tak ada santri mukim. Tak ada lembaga pendidikan formal maupun non formal. Juga tak ada pengajaran kitab – kitab klasik maupu modern sebagaimana lazimnya pendidikan di pesantren. Tapi bolehlah, sebagai permulaan untuk kemudian menjadi ideal.

Kembali melakukan evaluasi, reorientasi dan aktualisasi pendirian, pengembangan dan pemantapan peran dan fungsi pesantren, harus segera dilakukan oleh masyarakat pesantren di kota Lawang. Sebab kalau tidak, saya khawatir kalau keberadaannya nanti tak akan pernah menjadi pengawal aqidah, akhlaq dan gaya islami masyarakat muslim di kota Lawang yang kesehariannya senantiasa dihadapkan pada misionaris dengan segala “kelebihan” yang ditawarkannya.

Wallahu a’lam bishshawab…

***

*)Abrar Rifai, Pembantu Umum di Ponpes Babul Khairat, Lawang

Gambar diambil dari sini

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s