Arti Pahlawan

Abrar Rifai

 

*


Saoedara-saoedara ra’jat Soerabaja,
siaplah keadaan genting
tetapi saja peringatkan sekali lagi, djangan moelai menembak,
baroe kalaoe kita ditembak, maka kita akan ganti menjerang mereka itu.
Kita toendjoekkan bahwa kita adalah benar-benar orang jang ingin merdeka.
Dan oentoek kita, saoedara-saoedara, lebih baik kita hantjur leboer daripada tidak merdeka.
Sembojan kita tetap: MERDEKA atau MATI.
Dan kita jakin, saoedara-saoedara,
pada akhirnja pastilah kemenangan akan djatuh ke tangan kita
sebab Allah selaloe berada di pihak jang benar
pertjajalah saoedara-saoedara,
Toehan akan melindungi kita sekalian
Allahu Akbar..! Allahu Akbar..! Allahu Akbar…! MERDEKA!!!

Itu adalah cuplikan pidato Bung Tomo pada peristiwa 10 Nopember 1945. Dimana ketika itu Arek – arek Suroboyo berperang mati – matian untuk mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia yang sebelumnya sudah diproklamirkan oleh Bung Karno dan Bung Hatta, di Jakarta pada Tanggal 17 Agustus 1945.
Kalau kita perhatikan cuplikan pidato Bung Tomo di atas, jelas akan kita dapati bahwa semangat yang dibangun oleh Bung Tomo ketika itu adalah semangat jihad (Islam). Seperti pada kalimat “pada akhirnja pastilah kemenangan akan djatuh ke tangan kita, sebab Allah selaloe berada di pihak jang benar”, jelas disini menginformasikan kepada kita, bahwa beliau adalah orang yang mempunyai keimanan yang sangat kuat kepada Allah subhanahu wata’ala. Begitu juga pada akhir pidatonya, teriakan takbir tiga kali baru kemudian ditutup dengan pekikan merdeka, juga mengisyaratkan kepada kita bahwa beliau benar – benar hanya menggantungkan kemenangan dan pertolongan kepada Allah ‘azza wajalla.
Bung Tomo seakan tak mempunyai rasa takut sedikitpun berhadapan dengan pasukan sekutu yang saat itu telah mengepung Surabaya dari berbagai penjuru, darat, laut dan udara. Bung Tomo meyakini betul firman Allah yang berbunyi: “Dan Allah tidak menjadikannya (mengirim bala bantuan itu) melainkan sebagai kabar gembira dan agar hatimu menjadi tenteram karenanya. Dan kemenangan itu hanyalah dari sisi Allah. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. Al-Anfaal: 10)
Keyakinan dan ketergantungan hanya kepada Allah, itulah yang kemudian menjadikan Arek –arek Suroboyo bisa memukul mundur pasukan sekutu yang dipimpin oleh Inggris dengan peralatan perang yang jauh lebih canggih dari peralatan perang yang dipunyai oleh mereka. Sebagaimana firman Allah swt “Dan kemenanganmu itu hanyalah dari Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. Ali Imran: 126)
Allah memang akan memenangkan para mujahidin yang berperang di jalan-Nya. Tentu dengan syarat, bahwa peprangan yang dilakukan adalah benar-benar di jalan Allah, karena Allah dan didukung oleh keyakinan yang kuat kepada Allah, bahwa Allah akan menolong mereka. “Sesungguhnya Allah pasti akan menolong orang yang menolong (agama) –Nya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kuat lagi Maha Perkasa.” (QS. Al Hajj: 40)
**
Kini setelah kemenangan itu diraih, kemerdekaan itu bisa dipertahankan. Apa yang yang telah kita lakukan dalam mengisi kemerdekaan itu? Semua elemen masyarakat, pemerintah, anggota dewan, para penegak hukum, akademisi, pelaku usaha, pekerja, buruh, agamawan, santri, petani dan nelayan, semua haruslah terlibat dalam mengawal kemerdekaan yang telah diraih dengan pengorbanan darah, air mata dan bahkan nyawa para pendahulu kita ini.
Sudah saatnya kita berhenti saling menyalahkan. Kita akhiri segenap pertikaian. Kita sudahi sikap menang sendiri. Pun, mari kita stop prilaku jahat yang suka menjarah hak orang lain, uang rakyat, aset negara, hutan, rumah tinggal, lahan kosong, kebun dan hutan. Sehingga dengan begitu kita berharap musibah yang datang bertubi – tubi ini bisa segera disudahi oleh Allah tabaaraka wata’la. Karena sesungguhnya semua bencana yang melanda negeri kita, mulai gempa, tsunami, gunung meletus, banjir dan kebakaran, adalah merupakan respon terhadap perbuatan jahat seluruh anak bangsa. Belum lagi pertikaian antar suku dan kelompok – kelompok social lainnya, ibarat api dalam sekam yang sewaktu –waktu bias berkobar.
Ketika kejahatan dan kemaksiatan dianggap biasa. Peringatan dari Allah melalui, kitab suci-Nya dan hadits rasul-Nya serta petuah para ulama, sudah diabaikan, maka bukanlah suatu hal yang aneh kalau Allah kemudian menggunakan cara pamungkas untuk menyadarkan kita. Yaitu dengan menimpakan bencana! Kalau bencana yang sudah berulang kali ini belum juga membuat kita sadar dan mau memperbaiki kesalahan, berarti kita memang menginginkan bahwa suatu saat nanti negara yang bernama Indonesia ini akan tinggal namanya saja. Ingat, sekali – kali bahwa semua bencana yang Allah turunkan, bukan karena Allah sudah tak pengasih lagi kepada hamba-Nya. Tapi ketahuilah bahwa semua bencana ini terjadi adalah karena perbuatan kita sendiri. Sebagaimana firman-Nya: “Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian (akibat) perbuatan mereka, agar kembali (ke jalan yang benar)” (QS. Ar-Rum : 41).
Firman Allah di atas jelas menegaskan bahwa tujuan Allah menimpakan semua bencana yang sebenarnya adalah karena perbuatan kita tersebut, adalah semata – mata untuk mengembalikan kita ke jalan yang lurus. Jalan kebaikan, jalan perdamaian, jalan saling tolong menolong, jalan akhirat, jalan penyembahan dan peribadatan hanya kepada Allah. Yaitu jalan orang – orang yang telah Allah beri nikmat kepada mereka. Bukan jalan orang – orang yang telah Allah murkai.
Wallahu a’lam bishshawab

Leave a comment

Filed under Buletin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s