Kebersamaan Dalam Perbedaan

Sebenarnya tidak sulit bagi Allah subhaanahu wata’ala untuk menjadikan semua manusia satu suku saja, atau satu bangsa saja. Dengan rupa yang sama, warna kulit yang sama dan bahasa yang sama. Tapi hal tersebut tidak Allah lakukan, karena  justru akan menjauhkan manusia dari keindahannya. Coba kita bayangkan, kalau seandainya kita semua tampil seragam, lingkungan sekitar seragam, semua yang ada di depan mata kita seragam, tentu akan kita dapati bahwa itu akan menjadikan mata tak sedap memandang. Perasaan bosan akan terus mendera, sehingga kita  akan mudah berontak untuk kemudian pergi menjauh.

Nah saudara, sesungguhnya keberagaman yang Allah jadikan untuk kita, adalah untuk menjadikan kita selalu dalam kebersamaan. Allah menginginkan kita untuk tetap indah dalam keberagaman. Keberagaman harus selalu dibangun untuk tumbuh dan berkembang dalam kebersamaan kemanusia-an kita.  Manusia yang menyadari seutuhnya bahwa kita memang dicipta dalam perbedaan. Perbedaan yang harus dikelola. Perbedaan yang kudu dipoles, dipercantik sehingga menjadikan kita semua betah untuk terus bersama.
Keberagaman manusia adalah fithrah yang niscaya. Sebagaimana firman Allah:

“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kalian dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan kemudian menjadikan kalian berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kalian saling kenal-mengenal…..” (QS. Al-Hujurat: 13). “Supaya kalian saling mengenal”, begitu kata Allah dalam ayat ini. Tentu yang namanya saling mengenal tidaklah akan berhenti dengan hanya saling kenal saja. Setelah saling kenal, manusia dituntut untuk saling mengasihi. Saling melengkapi kekurangan masing – masing. Saling bekerja sama dalam berbagai hal yang berbeda. Karena dengan berbagai latar belakang (laki – laki perempuan, bersuku – suku dan berbangsa – bangsa), tentunya juga akan memiliki keahlian masing – masing. Pun mereka juga memiliki karakter  yang berbeda satu sama lain.

Dalam keberagaman itu Allah memerintahkan manusia untuk saling berlomba mengerjakan kebajikan. Berusaha untuk selalu terdepan dalam menyebar kebaikan. Saling terlibat untuk terus aktif berbuat bersama mewujudkan kemaslahatan bagi manusia lainnya dan seluruh semesta.  Coba perhatiakan bagaimana Allah memotivasi kita untuk bergegas melakukan kebaikan. Sebagaimana firman-Nya:“Dan bagi tiap-tiap umat ada kiblatnya (sendiri) yang ia menghadap kepadanya. Maka berlomba-lombalah kamu (dalam berbuat) kebaikan. Di mana saja kamu berada pasti Allah akan mengumpulkan kamu sekalian (pada hari kiamat). Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. (Al-Baqarah: 148). Bukan hanya bersegera dan berlomba berbuat baik yang Allah tegaskan dalam ayat ini. Tapi, Allah juga memberi tahu kita, bahwa manusia itu memang mempunyai beragam keinginan dan tujuan  (Dan bagi tiap-tiap umat ada kiblatnya (sendiri) yang ia menghadap kepadanya).

Setiap kita memang mempunyai harapan, kesukaan, cara berpikir, parameter dan acuan yang tidak selalu sama antara kita. Karena itulah kemudian melahirkan berbagai pendapat  yang juga banyak berbeda. Perbedaan timbul diantara kita, disamping karena memang sudah menjadi fithrah manusia itu sendiri, juga disebabkan karena latar belakang pengetahuan yang juga berbeda.   Bukan perbedaan tingkat atau jenjang pendidikan yang kami maksud disini. Tapi sumber pengetahuan yang berbeda,  cara memahami dan perbedaan cara mengaplikasikan pengetahuan, itulah yang kemudian menjadi perbedaan itu mengemuka.

Sekarang bukan perbedaan yang ingin kita samakan. Tapi bagaimana kita menyikapi perbedaan itu tetap dalam bingkai yang sama. Yaitu kebersamaan.  Sebab kalau kita selalu menjaga jarak diantara kita hanya karena kita berbeda pendapat. Maka, selamanya kita tidak akan pernah bersama. Selamnya kita akan terus bertikai. Kita tidak akan pernah memulai kerja – kerja besar. Kalaupun kita mengerjakannya dalam keterberaian, maka bisa dipastikan bahwa kebaikan itu tak akan pernah terwujud. Atau dengan kata lain, ia tak akan menghasilkan apa – apa. Contoh ketidak bersamaanya bangsa ini dulu ketika melawan penjajah, selama itu pula kita tidak pernah berhasil mengusir penjajah. Jadilah kita bangsa terjajah selama lebih dari 300 tahun. Baru ketika kita bersama, kita berhasil memaksa para penjajah untuk angkat kaki dari tanah air kita. Apakah kita mengira bahwa mereka bersama, bersatu padu berjuang melawan penjajah, tidak ada perbedaan di antara mereka? Tentu banyak sekali perbedaan strategi perjuangan yang diyakini oleh masing – masing komandan dan simpul massa dari berbagai suku dan daerah, dengan keberagaman masing – masing. Tapi keingianan yang sama untuk merdeka, itulah yang membuat mereka kemudian bersatu.

Kebersamaan adalah tuntutan. Keberagaman adalah kenyataan. Keberagama-an adalah keyakinan. Lantas sekarang bisakah kita tetap bersama, di tengah berbagai pendapat beragama yang beragam? Kenapa tidak? Bukankah kita sudah banyak sekali mendapat contoh indah dari para pendahulu ummat ini, para ulamaa` ummat ini, para fuqahaa  (ahli fikih) ummat ini, bagaimana mereka tetap bersama, saling menghormati pendapat masing – masing, walau mereka sering kali mengeluarkan fatwa yang berbeda.  Khalifah Abu Ja’far Almansur pernah meminta Imam Malik untuk menyatukan kaum muslimin seluruhnya dalam satu madzhab (pendapat). Yaitu madzhab Maliki, madzhabnya Imam Malik. Tapi Imam Malik menolak keras permintaan khalifah. “Wahai amirul mu’minin jangan lakukan itu, karena manusia telah banyak menerima pendapat ulama lainnya, mereka pun telah mendengar dan meriwayatkan banyak hadits, dan setiap kelompok telah berhukum sesuai dengan riwayat yang telah lebih dulu sampai pada mereka, maka biarkan mereka mengambil hukum sesuai dengan pilihan mereka sendiri.” Begitu jawab Imam Malik. (Annazhariyyatul ‘Ammah lisysyari’atil Islamiyyah)

Walau kita berbeda. Walau kita berpisah posisi dan kedudukan. Status kita juga berbeda. Apa yang kita ketahui, apa yang kita miliki juga berbeda. Banyak sekali memang perbedaan kita. Tapi, marilah kita tidak menjadikan perbedaan sebagai dasar pergaulan beragama, berbangsa dan bernegara. Perbedaan banyak itu mari kita abaikan. Dan kalau memang masih ada persamaan di antara kita, marilah persamaan itu yang kita kedepankan. Kita jadikan sebagai dasar berpijak untuk saling menguatkan satu sama lain. Bukankah agama kita sama Islamnya? Menyembah tuhan yang satu, Allah. Meyakini syurga dan neraka yang sama. Mengikuti nabi yang sama, Muhammad saw. Berpedoman kitab yang sama, Al-Qur`aan. Bukankah kita hidup di Negara yang sama, Indonesia? Bukankah kita adalah bangsa yang sama, Indonesia? Berarti kalau begitu, perbedaan kita sebenarnya adalah furuu’ (cabang) bukan pangkal (prinsip). Kalau hanya cabang saja, bukan prinsip, lantas untuk apa kita harus ngotot mempertahankan pendapat  masing – masing. Merasa diri paling benar, orang lain salah. Yang namanya cabang, memang tidak pernah sama. Ada yang kesamping, ke kiri, ke kanan, ke atas, ke bawah dan bahkan memutar. Indah sekali Sayyid Qutub menggambarkan perbedaan ini:  “Adalah tabiat manusia untuk berbeda, karena perbedaan adalah dasar diciptakannya manusia yang mengakibatkan hikmah yang sangat tinggi, seperti perbedaan mereka dalam berbagai potensi dan tugas yang diemban, sehingga akan membawa perbedaan dalam kerangka berfikir, kecenderungan metodologi dan teknik yang ditempuh. Kehidupan dunia ini akan membusuk jika Allah swt tidak mendorong manusia melalui manusia lainnya, agar energi berpendar, saling bersaing dan saling mengungguli, sehingga mereka akan menggali potensi terpendam mereka untuk terus berupaya memakmurkan bumi ini yang akhirnya akan membawa pada kebaikan, kemajuan dan pertumbuhan. Itulah kaidah umum yang tidak akan berubah selama manusia masih tetap disebut sebagai manusia.” (Fi Zhilaalil Qur`aan) 

****

Gambar diambil dari sini

Leave a comment

Filed under Buletin